Profil RRI Sorong

Profil LPP RRI Sorong

gedung-rri-sorongSebelum RRI Sorong mengudara secara resmi di kawasan Kota Sorong pada tanggal 1 Mei 1963, 3 tahun sebelumnya sudah terdapat stasiun penyiaran radio dengan nama Radio Oemroep New Guinea (RONG). Stasiun Rong Sorong pada saat itu berlokasi di Bumi Perumtel atau tepatnya disamping Hotel Kohoin dan memiliki sarana transmisi yang dikelola oleh PTT setempat dan berkekuatan 500 Watt. Pertama kali berdiri sebagai stasiun regional, Rong memiliki 3 orang personil yang dipimpin oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Van Valsel dan dibantu 3 orang bernama Thio Arfayan, Dolfinus Rumbino dan Ali Bauw. Dengan tenaga yang sangat minim tersebut Rong dapat menyelenggarakan siaran dalam 2 bahasa yaitu bahasa Melayu (Indonesia) dan terkadang bahasa Belanda khususnya khalayak yang mengerti dan menggunakan kedua bahasa tersebut. Materi siaran Rong berupa siaran informasi dan musik, baik diinformasikan oleh Rong Sorong maupun yang bersifat relay langsung atau transkipsi rekaman secara musik dan terkadang suplay dari Rong Biak. Di Papua selain Sorong Rong juga terdapat dibeberapa daerah diantaranya Rong Biak. Rong Biak sejak tahun 1953 berperan sebagai pusat penyiaran radio pemerintah Belanda kemudian tanggal 15 Juni 1962 Rong dengan status sentral atau pusat penyiaran dialihkan ke Holandia (Jayapura). Sehingga sejak saat itu Kota Biak dengan Rongnya hanya berstatus regional seperti halnya Sorong, Manokwari, Fak-Fak dan Merauke.

 

gedung-rri-sorong2

Dilibatkannya Rong Sorong dalam siaran bersifat konfrontasi sekitar tahun 1961 atau 1962 melalui acara siaran yang di relay dari Rong Biak. Selama periode tersebut tidak kenal siaran radio Pembebasan Irian Barat. Siaran luar dari Irian Barat untuk mengkonter isi siaran Rong Biak dipancarkan melalui RRI Ambon, Ternate dan Radio Perjuangan Tual. Tahun 1962 tenaga pimpinan Rong Sorong harus meninggalkan Irian Barat dan sejak itu pula pengendalian siaran Rong sorong dilakukan tenaga setempat. Menjelang akhir tahun 1962 tenaga-tenaga dari tim RRI mulai berdatangan dan bekerjasama dengan tenaga-tenaga yang sudah ada. Nama Rong Sorong kemudian disesuaikan dengan kesepakatan yang dicapai dengan pemerintah Indonesia, Belanda dan pemerintah sementara PBB/UNTEA menjadi Radio Guinea Baru Barat.

Tanggal 1 Mei 1963 mengudaralah nama RRI Sorong setelah kekuasaan sementara PBB dialihkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, baik sarana dan transmisi siaran diadministrasikan oleh Pemerintah RI CQ.RRI/Departemen Penerangan. Tiga bulan kemudian tanggal 23 Juli 1963, RRI Sorong diperkuat lagi dengan sarana transmisi pemancar yang didatangkan dari ternate yang berkekuatan 10 kwt. Pemancar tersebut diberangkatkan ke Sorong dengan KRI Tarewo. tercatat nama pengantar langsung pemancar tersebut dari ternate ke Sorong dengan KRI Tarewo adalah Theo Arfayan (almarhum), Fajar Mandraji,BA (almarhum) dan Sudarsono (mantan Kasie Teknik RRI Sorong, masih hidup).

Pengembangan personil maupun struktur organisasi RRI Sorong tidak dapat dimungkinkan terutama setelah tahun 1969. Masa kepemimpinan Kepala stasiun RRI Regional I Sorong adalah sebagai berikut : Fajar Mandaji, BA tahun 1963 s/d 1967, F.P.Likumahwa tahun 1967 s/d 1974, Amhad J.S, BA tahun 1974 s/d 1981, A.F.C. Usmany tahun 1981 s/d 1984, Ricky D.Wader tahun 1984 s/d 1992, Drs. Sallamo Hamid tahun 1992 s/d 1997. Mochtar Yushaputra, BA tahun 1997 s/d 2004, Umar Solle tahun 2004 s/d 2005, Rusdiman Saragih tahun 2005 s/d 2007 dan Drs. Salman tahun 2009 – sekarang.

Pembangunan fisik gedung operasional siaran pemancar dan penunjang dialami secara nyata dalam kurun waktu Repelita II dalam menambahakan pemancar baru, gedung baru dan peralatan studio yang baru tercatat sampai saat ini :

Fasilitas Umum

  1. Satu gedung berlantai dua dengan ukuran 9×40 meter persegi.
  2. Satu gedung siaran ukuran 9×30 meter persegi.
  3. Tiga gedung diesel dengan pemancar.
  4. Sejumlah perumahan pegawai

Fasilitas Teknik

  1. Satu buah pemancar merek gates berkekuatan 10 kwt, mulai beroperasi sejak 1963.
  2. Satu buah pemancar merek Harris berkekuatan 10 kwt, mulai beroperasi sejak 1976.
  3. Satu buah pemancar FM merek Harris berkekuatan 50 watt, mulai beroperasi sejak 1976.
  4. Satu buah pemancar MW (NTC) berkekuatan 10 kwt, mulai beroperasi sejak 1994.
  5. Satu buah pemancar FM (NEC) berkekuatan 100 kwt, mulai beroperasi sejak 1994.

Fasilitas Peralatan Studio

Selain dari peralatan pemancar di studio terdapat juga peralatan ini dapat dibagi pada beberapa studio terdapat juga peralatan baru dan canggih buatan Negara Ausratia, peralatan ini dapat dibagi pada beberapa studio.

  1. Studio I Multipropose (serba guna) terdiri dari 1 buah mixing consule, 2 Buah master, 16 buah chanel, 16 buah microphone.
  2. Studio II Editing / Learning (rekaman) terdiri dari 1 buah mixing consule, 2 buah master, 2 buah microphone, 8 buah chanel.
  3. Studio III Continuty (Studio kesinambungan) terdiri dari 1 buah mixing consule, 4 buah chanel mono, 4 buah microphone dan 8 buah chanel stereo.
  4. Studio IV master Control Room (MCR) Kamar pusat pengendalian.
  5. Studio V Ruang Uninterupted Power Supply Kamar pengendali listrik

Disamping peralatan studio, masih ada buah kendaraan yang dilengkapi dengan peralatan studio berjalan sambil menyiarkan sesuatu peristiwa dari luar lokasi RRI dan dapat diterima di studio RRI kemudian dipancarluaskan lebih jauh melalui peralatan studio, dengan memancar berkekuatan besar, peralatan studio ini berkat sumbangan dari pemerintah Australia dan baru dipakai pada bulan Juli 1994.

Dibidang personil dialami penambahan terutama setelah tahun 1990, sehingga sampai tahun 1998 tercatat sebanyak 133 orang termasuk pemimpin.

© 2014 RRI Sorong, Developing by ATDIV Developers

Scroll to top